|
MENGUNJUNGI PAMERAN TENTANG PUTRI DIANA
Pagi hari itu, Senin, 22 Oktober 2007, Pengurus DWP KJRI Sydney berkesempatan untuk mengunjungi pameran yang bertajuk ‘Diana: a Celebration’ yang diselenggarakan pertama kalinya di Australia. Pameran yang diselenggarakan di Powerhouse Museum, Sydney sejak tanggal 22 September 2007 hingga 4 Mei 2008 ini memajang benda-benda koleksi Althorp Estate, yang mewarisi berbagai benda warisan keluarga besar Diana, keluarga Earl Spencer. Meski telah sebulan dibuka untuk umum, namun minat masyarakat Australia untuk mengunjungi pameran ini masih tetap besar, sebagaimana terlihat pada antrian masuk pada pagi itu. Ya, meskipun terletak nan jauh di belahan timur, sepertinya keterikatan emosi masyarakat Australia terhadap segala hal yang berbau kerajaan Inggris Raya, khususnya Putri Diana, masih sangat kuat. Bahkan berita tentang perkembangan penyelidikan kematian sang Putri yang cantik itu masih cukup membetot perhatian publik.
Pameran ditata menjadi 9 bagian sesuai dengan kronologi perjalanan hidup mendiang Diana. Ketika memasuki pameran, kami disambut oleh sebuah tiara yang terpajang apik di tengah-tengah ruangan. Tiara, sebuah perhiasan yang menunjukkan status seseorang sebagai seorang Putri ini, merupakan koleksi turun-temurun keluarga Spencer yang dibuat pada tahun 1830. Di ruang berikutnya kami menyaksikan silsilah keluarga Spencer yang secara gamblang menerangkan garis keluarga bangsawan ini. Di ruang ini pula terpajang beberpa lukisan wajah mendiang buyut Diana beserta koleksi benda-benda yang terkait dengan status mereka sebagai seorang Duchess, Countess, maupun Lady seperti mahkota, tiara, cincin, bros, dan stempel pribadi.
Selanjutnya kami memasuki ruangan yang khusus menggambarkan kehidupan pribadi Diana sejak bayi, masa kanak-kanak, hingga pertunangannya dengan Pangeran Charles. Di ruang ini dipajang benda-benda yang sangat dekat dengan keseharian seorang Diana Spencer seperti seragam sekolah, buku rapor sekolah, buku harian, sepatu tap dan balet, hingga koper pribadi yang bertuliskan ‘D. Spencer’ sebagaimana kami saksikan dalam sebuah tayangan film dokumentasi singkat keluarga Spencer. Beruntung ayah Diana, The 8th Earl Spencer, memiliki minat dan bakat dalam bidang fotografi dan seorang pembuat video amatir yang cukup baik sehingga kami dapat menyaksikan masa kanak-kanak Diana, mulai dari pembaptisan hingga usia 10 tahun yang merupakan hasil sorotannya. Selain itu terpajang juga foto-foto kanak-kanak hingga remaja seorang Diana, yang kelak tak hanya menjadi objek bidikan kamera ayahnya, tetapi juga para fotografer dunia.
Meski terlahir sebagai ningrat, kehidupan remaja Diana sangat bersahaja, terutama saat kedua orang tuanya bercerai, dan ia kemudian mengikuti ibunya tinggal di sebuah apartemen biasa. Sejak menjalin hubungan khusus dengan Pangeran Charles, Diana mulai berkenalan dengan jamuan-jamuan khusus. Berbagai pengalaman dalam jamuan-jamuan tersebut ia tulis dalam buku harian yang terpajang apik dalam lemari kaca yang juga memuat benda-benda koleksi lain yang terkait dengan romansanya dengan Pangeran Charles seperti buku menu yang berisi hidangan favorit pada jamuan makan malam pertama mereka di sebuah hotel, buku menu jamuan keluarga Spencer, bahkan kartu Natal dari Pangeran Charles kepada Diana yang dikirim pada Desember 1980. Masa-masa setelah pengumuman pertunangan keduanya pada 24 Februari 1981 tergambar dalam deretan foto-foto yang terpajang dalam sebuah lorong menuju ruang pamer berikutnya.
Selanjutnya kami terpana dengan kehadiran sebuah gaun pengantin yang spektakuler yang dikenakan oleh Diana pada saat pernikahannya. Gaun yang selama ini hanya dapat kami saksikan melalui foto-foto maupun tayangan dokumentasi hadir mempesona. Dengan panjang sekitar 7,5 meter dan desain yang mengambil gaya Victoria yang megah bertaburkan mutiara, gaun tersebut meski tampak menguning namun masih mampu memancarkan keanggunannya. Pemutaran video dokumentasi pernikahan Diana dan Pangeran Charles pada 29 Juli 1981 dan latar belakang iringan musik khas kerajaan Inggris membuat kami serasa hadir di tengah-tengah upacara pernikahan yang disebut-sebut sebagai pernikahan paling agung di abad 20 tersebut.
Selanjutnya kami memasuki ruang pamer yang memajang foto-foto dan benda-benda koleksi Diana yang berkaitan dengan tugasnya sebagai seorang ‘Princess’ maupun Duta dari berbagai organisasi dunia. Salah satunya adalah foto kunjungannya ke Indonesia pada November 1989. Di salah satu foto Ibu Yunisa Alatas berkebaya hijau tampak turut mendampingi Diana saat mengunjungi para penyandang lepra di RS Sitanala. Kami merasa cukup bangga karena ternyata kunjungan ke Indonesia memiliki arti khusus bagi Diana maupun dunia. Pada kunjungan tersebut Diana mampu membuka mata dunia dalam menghapus stigma terhadap para penyandang lepra. Sejak saat itu, Diana menyadari betul pesona yang dimilikinya untuk kemudian dimanfaatkan dalam mengkampanyekan berbagai isu mulai dari yang berkaitan dengan HIV/AIDS, kesejahteraan anak-anak, hingga pemusnahan ranjau darat bahkan setelah tugas resminya sebagai ‘Princess’ berakhir ketika memutuskan untuk bercerai dari Pangeran Charles.
Kepopuleran Diana sebagai seorang figur publik boleh dikatakan berakhir dengan tragis. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil setelah dikejar-kejar para paparazzi pada 30 Agustus 1997 di usia 36 tahun. Di ruang yang diberi tema ‘Tribute’, kami menyaksikan konsep sambutan Charles Spencer pada upacara pemakaman kakak tercintanya tersebut pada 6 September 1997. Terbaca suasana emosional adik Diana yang bergelar ‘The 9th Earl Spencer’ terhadap tragedi kematian kakak yang telah ia anggap sebagai ibu keduanya ini sebagaimana tertuang dalam konsep pidatonya. Namun demikian, demi melihat kepentingan yang lebih luas untuk memberikan kenangan yang terbaik bagi Diana dan kedua putra kesayangannya, bagian tersebut ia coret. Selain itu pengunjung dapat menyaksikan corat-coret notasi dan lirik gubahan Sir Elton John yang ia persembahkan khusus bagi Diana, “The England’s Rose”. Pencahayaan yang redup, foto makam Diana di Oval Island, dilatarbelakangi oleh alunan lagu ‘Candle in the Wind‘ membuat suasana cukup haru biru. Beberapa pengunjung tampak menitikkan air matanya atau sekedar menyeka air matanya yang menggenang. Ucapan selamat jalan kepada Diana menuju peristirahatannya tak hanya disampaikan oleh seorang Elton John, namun juga seluruh penggemarnya di berbagai belahan dunia. Beribu bahkan jutaan ucapan duka cita tersebut dikumpulkan dalam album-album ‘Condolences’ dari berbagai perwakilan Kerajaan Inggris di dunia maupun yang dikirimkan langsung ke Inggris.
Akhirnya kamipun sampai pada bagian akhir pameran, dengan menyaksikan sekitar 28 pakaian koleksi Diana. Kami menyaksikan evolusi gaya berpakaian Diana -yang memandang pakaian tidak hanya dari ketentuan berpakaian dalam pemunculan di depan publik namun juga berdasarkan selera berpakaian, mulai awal tahun 1980an hingga akhir penampilannya di depan publik yang dirancang oleh desainer kenamaan Inggris maupun dunia antara lain Versace, Valentino, Lacroix, Chanel, Catherine Walker, dan Bruce Oldfield.
Sebelum keluar dari pameran, kami menyempatkan untuk berfoto di depan foto besar Diana karya fotografer Peter Demarcheliér dalam gaun putih dan tiaranya sebagai seorang Princess serta membeli beberapa suvenir cantik bergambar Diana atau lambang Althorp Estate sebagai kenang-kenangan. Kiranya benar apa yang disampaikan oleh The 9th Earl Spencer bahwa pameran ‘Diana:a Celebration’ merupakan salah satu upayanya untuk mendekatkan mendiang Diana kepada para penggemarnya di berbagai belahan dunia yang tidak dapat datang secara langsung ke Inggris untuk menyaksikan makam dan benda-benda koleksi Diana yang tersimpan rapi di Althorp, kediaman keluarga Spencer. (Etty Iswandy)
|